Pemimpin Politik Maupun Pemimpin Ekonomi Hanya Mungkin Dapat Mengatasi Carut Marut Bangsa dan Negara Jika Didampingi Oleh Pemimpin Spiritual

10

Jacob Ereste :

Mentreng.com | Menilik carut marutnya masalah yang mengepung bangsa dan negara Indonesia pada hari ini, sulit dipercaya dapat diatasi oleh politikus serta ekonom, karena justru masalah politik dan masalah ekonomi bangsa yang menjadi habitat pertarungan bebas, hingga sukar untuk diredakan, karena semua sudah menjadi pemain utama yang tidak lagi jelas skenarionya. Semua begitu berani dan tambeng untuk jadi pemeran utama agar bisa lebih dominan menentukan dramatikanya.untuk menguasai semua bidangbdan peran seluas mungkin.

Karena itu ambruklah panggung budaya kita akibat pertarungan politik dan perkelahian ekonomi yang semakin meluas, hingga habitat budaya pun jadi benar-benar luluh lantak seperti baru dihajar oleh badai puting beliung yang maha dakhsyat.

Tatanan etika, moral dan akhlak yang seharusnya dapat dijaga dan dipelihara secara bersama, telah hancur lebur berantakan, tak lagi jelas wujudnya. Kropod dan lapuk, seperti tubuh renta yang tak berdaya apa-apa akibat ulah birahi politisi dan ekonom yang memperkosa sekedar untuk mengumbar syahwatnya.

Kondisi yang gawat darurat ini hanya mungkin diselamatkan oleh pemimpin spuritual yang sudah selrsau duniaeinya. Sabar dan tekun dengan segenap imunitas terhadap hal-hal yang bersifat materi, birahi, syahwat, materi, kekuasaan dan rasa tamak serta kerakusan seperti makhluk kanibal yang memangsa apapun dan siapa pun yang dia rasa enak dan perlu dilahap untuk memuaskan nafsu angkara kebuasannya.

Budaya bar-barian seperti ini sungguh sedang terjadi di negeri kita, Indonesia. Meski prilaku dan sikap perlakuan yang dilakukan belum begitu pulgar, namun toh fenonena yang terjadi sudah lebih dari cukup untuk dijadikan bahan permenungan, bagi kita yang masih mampu berpikir jernih dan memiliki akal sehat.

BACA JUGA :  Polri dan (Komnas HAM) Adakan MoU Tentang Penegakan HAM Di Indonesia

Coba renungkan, bagaimana mungkin seorang ayah begitu tega menodai anak gadisnya sendiri. Lalu seperti apa logikanya bagi seorang anak yang tega mengusir atau menggugat Ibu kandungnya ke pengadilan. Jadi, apalagi hanya untuk seorang wanita muda yang bisa memaki-maki seorang nenek tua yang entah berantah asal usulnya itu. Maka itu kalau cuma aparat penegak hukum yang kini cukup dominan melanggar hukum, seolah telah menjadi hal yang wajar. Coba saja rinci jika Anda harus membezuk kawan atau saudara di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) di manapun bisa dipestikan bila Anda tak punya apa-apa untuk membezuk saat itu pastilah akan mengalami kesulitan yang amat sangat rumitbyang harus ditempuh lewat prosedur yang berliku. Lantas bagaimana mungkin kemudian bisa berkilo-kilo obat terlarang bisa dibawa masuk ke Lapas untuk kemudian bisa didistribusikan dengan leluasa dan bebas dari Lapas ?

Kasus terbaru yang cukup fenomenal adalah adanya oknum Polisi yang bisa menjadi obyek pemerasan oknum LSM. Lalu bagaimana cerita sesungguhnya yang terjadi, meski oknum LSM yang berani memeras oknum Polisi itu jadi terkesan sangat unik. Apakah benar sama sekali tidak memiliki dasar atau dalih yang bisa menjadi dasar untuk memperlakukan oknum aparat seperti itu ?

Dalam jurus investigatif reporting jurnalis terdepan, adanya tanda tanya besar sesungguhnya ada dibalik cerita dan berita yang gajil ini. Karena itu invertigative repkrtingb patut dilakukan untuk menyibak cerita dibalik berita yang ganjil ini.

Apabsih, dasarnya, kok ya bisa-bisanya oknum LSM berani memeras oknum Polisi. Sebab dalam kaidah investigative reporting yang benar, adanya sesuatu yang aneh dan patut ditelisik lebih jauh itu adalah tigas utama para jurnalis. Apa dan bagaimana cerita yang sesungguh-sungguhnya, kok bisa terkesan jadi naif begitu narasinya ?

BACA JUGA :  Ungkap Peran Tionghoa dalam Pendirian ITB, Alumni Lemhannas Apresiasi Tulisan Ong Han Ling

Kejadian-kejadian ganjil dan aneh seperti itu cukup sudah bejibun terjadi di negeri ini. Hingga dalam telaah dimensi spiritual, perlunya mawas diri dan waspada, ujar Eko Sriyanto Galgendu, salah satu Pemimpin Spiritual yang juga memimpin dan menjadi motor penggerak kebangkitan kesadaran spiritual bangsa Indonesia. Sebab menurut dia bumi yang memiliki bahasa ucapnya itu telah mengatakan bahwa perilaku dan sikap manusia harus kembali pada fitrah asali yang memiliki nilai-nilai ilahiyah.

Pandemi Covid-19 pun sesungguhnya mengisyaratkan sikap.eling dan kewaspadaan itu perlu ditata ulang seperti ritme dari tata kehidupan yang lain, karena memang tak bisa diabaikan untuk hidup dan tata kehidupan yang lebih baik dan manusiawi.

Rinciannya pun tak jelas, persis seperti pandemi yang entah kapan bisa kita anggap selesai menjadi rongrongan tata kehidupan yang semakin kompleks dan runyam. Sementara itu, ambisi dan ego manusia terus digelembungkan, tanpa pernah hirau pada kondisi dan situasi negeri ini yang akan diwarisi oleh generasi bangsa Indonesia berikutnya.

Dalam kondisi dan situasi serupa inilah, pemimpin spiritual yang memiliki basis etika, moral dan akhlak mulia adalah yang mampu untuk menata kembali keruntuhan bangunan dari peradaban dan kepribadian bangsa serta negara Indonesia yang tengah betada pada tubir kehancuran.

Minimal, sosok pemimpin spiritual yang diidealkan oleh bangsa dan negara Indonesia sekarang ini adalah setara dengan Lech Walensa dari Polandia. Atau seperti sosok revolusionernya As Sayyid Ayatullah Rohollah Khomeini yang menghantar bangsanya untuk keluar kembali dari jalan yang sesat.**

Komentar