Pertarungan Ekonomi Kita Yang Kalah Telah Melibas Budaya Kita

21

Jacob Ereste :

Mentreng.com | Aksi unjuk rasa yang dilakukan maum buruh itu, percayalah hanya katena dipaksa oleh keadaan yang mendesak untuk dilakukan. Sebab kaum buruh pun, bukanlah orang yang kurang pekerjaan, kalau pun tidak bisa dikatakan sangat berlebihan.

Dan akibat pekerjaan berlebih itu pula kaum buruh acap melakukan aksi dan unjuk rasa sampai akhirnya terpaksa mogok untuk melakukan penekanan akibat aksi dan unjuk rasa diabaikan.

Jadi secara hirarkis wujud protes kaum buruh itu dimulai aksi dan unjuk rasa, baru puncaknya adalah mogok seperti yang dijamin oleh UU maupun konvensi International Labour Organization (ILO). Pada pokoknya, hak mogok bagi kaum buruh itu dijamin perlindungannyanoleh UU.

Lalu banyaknya TKA (Tenaga Kerja Asing) yang berdatangan dari negeri China yang dibawa oleh pengusaha asal China juga untuk bekerja bersama mereka di proyek yang sedang mereka kerjakan di Indonesia pada sektor Tambang. Riuhnya pekerja asal China ini pun diakui oleh Luhut Binsar Panjaitan selaku Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves), karena kesalahan kita — pemerintah Indonesia yang tidak mampu memperdiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) ysng dianggap kompeten untuk mengisi peluang dan kesemoatan kerja yang ada itu di sektor pertambangan di negeri kita.

Anggapan kurang kompetennya tenaga kerja kita ini diklaim Luhut Binsar Panjaitan karena tidak mumpuni. (Repelita Online -2021-11-21). Artinya, pihak pemerintah sadar bahwa kelalaian itu disebabkan oleh ulah sendiri yang tak mampu membangun dan meningkatkan SDM Indonesia untuk bersaing di negerinya sendiri. Sementara TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dibiarkan berjuang sendiri di negeri orang. Lalu bagaimana hendam bersaing di negeri orang, ketika berangkat pun tak cukup dibekali dengan keterampilan dan bahasa sebagai ssrana komunikasi agar tidak dikadali oleh masyarakat setempat.

BACA JUGA :  Ketua Komite I DPD RI Fachrul Razi : Cukup Sudah Kekerasan Di Papua

Serbuan tenaga kerja asal China ke Indonesia sungguh telah meresahkan banyak pihak. Bukan saja bagi jaum buruh Indonesia karena telah merampas kesempatan kerja warga pribumi. Akibatnya, telah ikut menimbulkan sikap sentimen yang sulit dikontrol terjadi dalam masarakat

Pergesekan budaya serupa ini jelas amat sangat tidak sehat bagi kehidupan betbangsa dan bernegara. Sehingga peluang terjadinya benturan budaya seperti ramalan para futurolog jadi semakin nyata bakal terjadi dalam waktu dekat. Masalahnya sekarang tampak memang sedang metadang, menunggu waktu saatnya tiba saja. Ibarat kata, seperti tinggal pemantiknya saja yang belum ada. Artinya, ancaman keonaran bakal terjadi kapan saja. Sebab alasannya sudah lebih dari cukup untuk terjadi, manakala tidak segera dapat diantisipasi bersama oleh pemangku kepentingan yang ada.

Terbentuknya konsentrasi baru di berbagai daerah proyek pertambangan yang dominan dikuasai oleh etnis asing tertentu pasti membangun budaya yang melabrak budaya masyarakat setempat.

Dalam konteks serupa inilah benturan budaya dalam skala kecil setidaknya sudah dimulai.

Lantas langkah seperti apa yang patut dilakukan kecuali memperjuangkan warga lokal agar bisa ikut bekerja pada proyek pertambangan itu misalnya. Sebab dalam pergulatan atau bahkan pertarungan secara ekonomi pun warga bangsa Indonesia sudah dalam posisi yang telah kalah.**

Jakarta, 23 November 2021

Komentar